Sepanjang alirannya dari hulu yang sejauh ratusan kilometer, Sungai Mahakam melalui banyak perkampungan dan hanya ada dua Kota yang dilaluinya yaitu Tenggarong sebagai Ibukota Kabupaten Kutai Kertanegara dan Samarinda. Sampai saat ini Mahakam masih berperan sangat penting sebagai jalur transportasi di Provinsi Kalimantan Timur sekalipun rute darat sudah sebagian terbuka. Setiap hari Kapal Penumpang masih hilir mudik melayani mobilisasi penduduk dari hulu sungai menuju Samarinda dan juga sebaliknya. Tiap saat tongkang-tongkang yang berisi batu bara merayap mengendap-endap menuju laut luas laksana pencuri yang barusan keluar dari rumah yang dijarahnya. Sumber energi berupa Mas Hitam tersebut dikeruk dari Bumi Kalimantan dan dikirim melewati perkampungan di Sepanjang Aliran Mahakam yang masih temaram karena belum teraliri arus listrik. Ironis!!!!! Karena setibanya di tujuan, Emas Hitam tersebut dapat menerangi Kota-Kota Besar sedangkan di tempat asalnya hanya ada pelita sebagai penanda kehidupan.
Kekayaan alam dari Pedalaman Kalimantan seakan tak pernah ada habisnya. Sejak jaman Kerajaan Kutai Tempo doeloe, Phinisi-Phinisi melintasi Mahakam membawa kayu, gaharu, dan emas menuju seantero Nusantara sampai jaman demam sarang burung dan jaman Hutan Kalimantan di babat habis di era orde baru. Saat ini batu bara masih melimpah dan perkebunan kelapa sawit menjamur di pelosok pedalaman tapi sepertinya kekayaan alam yang berlimpah tak selamanya berbanding lurus dengan kesejahteraan. Pertanyaannya, Bagaimana jika kekayaan alam yang berlimpah ini sudah terkuras habis, sedangkan kita masih belum bisa berucap Syukur atas Nikmat Karunia-Nya?????
Tampilkan postingan dengan label Mahakam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahakam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Agustus 2012
Jumat, 16 Desember 2011
Kulihat dari Tepi Mahakam
| Nelayan di Tengah Kota |
Terjebak macet di Tepian Mahakam pada saat jam pulang kerja sudah menjadi rutinitas harian, disaat seperti itu kulihat seorang nelayan sedang menebarkan jala di tengah sungai. Kutepikan sepeda motorku, sembari istirahat di bawah pohon rindang dan menikmati pemandangan sambil iseng jeprat-jepret menggunakan kamera saku. Keindahan sungai yang membelah dua Kota Samarinda ini menginspirasi dan membawa imajiku tuk menyebrangi batas waktu. Mungkin jika benar Laksamana Cheng Hoo menyusuri sungai ini, Dia melihat nelayan-nelayan seperti yang kulihat saat ini. Tak dapat kubayangkan betapa takjubnya Masyarakat Kutai saat itu melihat besarnya armada laut dari Dinasti Ming tersebut. Hanya saja Samarinda kini tentu saja sudah jauh berbeda dengan Samarinda 500an tahun yang lalu. Samarinda Seberang sebagai latar dari foto "Nelayan di Tengah Kota" saat itu mungkin hanya beberapa rumah panggung atau bahkan masih hutan belantara.
Lokasi:
Kalimantan Timur, Indonesia
Selasa, 06 Desember 2011
Menyusuri Sungai Belayan
Melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur menggunakan kapal motor bisa menjadi alternatif liburan yang menyenangkan. Menyusuri Sungai Belayan dari Samarinda menuju Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara cukup merogoh kocek 230.000 rupiah untuk tiket kapal. Selama 2 hari 1 malam berada dalam kapal sambil menikmati pemandangan daerah pinggiran Sungai Mahakam dan Sungai Belayan yang cukup indah.
Langganan:
Postingan (Atom)